Research

PHINTAS Weekly Report 11 May 2021

 

IHSG [Resistance : 6000] [Pivot : 5950] [Support : 5900]
Indeks-indeks Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (7/5). Seiring
dengan penguatan tersebut, DJIA dan S&P 500 mencatatkan level penutupan
tertinggi baru (7/5). Penguatan tersebut dipicu oleh keyakinan pelaku pasar bahwa
kebijakan moneter longgar dari the Fed masih akan dipertahankan untuk waktu
yang lebih lama. Keyakinan ini didasari oleh data ketenagakerjaan terbaru yang
kurang memuaskan. U.S. non-farm payrolss tercatat sebesar 266,000 di April 2021,
jauh lebih rendah dari perkiraan yang sebesar 978,000. Sejalan dengan hal tersebut,
U.S. unemployment rate naik ke level 6.1% di April 2021, dari 6% di Maret 2021.
Sentimen diatas berpotensi mendorong penguatan lebih lanjut pada nilai tukar
Rupiah dan berpotensi meredam kecenderungan net sell investor asing di Pasar
Modal Indonesia. Hal ini dapat memberikan katalis positif bagi saham-saham bank
(BBNI, BBRI, BMRI) Sebagai informasi, investor asing bahkan mencatatkan akumulasi
net buy mencapai Rp1 triliun dalam sepekan terakhir. Oleh sebab itu, IHSG
berpotensi mencatatkan technical rebound ke kisaran 5950-6000 pada perdagangan
Senin (10/5) dan Selasa (11/5). Dari pertimbangan teknikal, Aksi jual pada
perdagangan Jumat (7/5) cenderung sebagai bentuk antisipasi pelaku pasar
terhadap libur panjang di pekan depan, mengingat volume transaksi justru
cenderung menurun (7/5). Sejumlah saham yang dapat dicermati, antara lain ACES,
JPFA dan MAIN. Saham yang melemah signifikan di Jumat (7/5), seperti ASII dan
ERAA, serta saham logam dasar, seperti ANTM, INCO dan MDKA juga dapat
diperhatikan.

IHSG [Resistance : 6000] [Pivot : 5950] [Support : 5900]Indeks-indeks Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (7/5). Seiringdengan penguatan tersebut, DJIA dan S&P 500 mencatatkan level penutupantertinggi baru (7/5). Penguatan tersebut dipicu oleh keyakinan pelaku pasar bahwakebijakan moneter longgar dari the Fed masih akan dipertahankan untuk waktuyang lebih lama. Keyakinan ini didasari oleh data ketenagakerjaan terbaru yangkurang memuaskan. U.S. non-farm payrolss tercatat sebesar 266,000 di April 2021,jauh lebih rendah dari perkiraan yang sebesar 978,000. Sejalan dengan hal tersebut,U.S. unemployment rate naik ke level 6.1% di April 2021, dari 6% di Maret 2021.

Sentimen diatas berpotensi mendorong penguatan lebih lanjut pada nilai tukarRupiah dan berpotensi meredam kecenderungan net sell investor asing di PasarModal Indonesia. Hal ini dapat memberikan katalis positif bagi saham-saham bank(BBNI, BBRI, BMRI) Sebagai informasi, investor asing bahkan mencatatkan akumulasinet buy mencapai Rp1 triliun dalam sepekan terakhir. Oleh sebab itu, IHSGberpotensi mencatatkan technical rebound ke kisaran 5950-6000 pada perdaganganSenin (10/5) dan Selasa (11/5). Dari pertimbangan teknikal, Aksi jual padaperdagangan Jumat (7/5) cenderung sebagai bentuk antisipasi pelaku pasarterhadap libur panjang di pekan depan, mengingat volume transaksi justrucenderung menurun (7/5). Sejumlah saham yang dapat dicermati, antara lain ACES,JPFA dan MAIN. Saham yang melemah signifikan di Jumat (7/5), seperti ASII danERAA, serta saham logam dasar, seperti ANTM, INCO dan MDKA juga dapatdiperhatikan.

 

Top